Beranda Berita Kreasi Sosialisasi Program Pendidikan Pemilih Cerdas di Buay Bahuga

Kreasi Sosialisasi Program Pendidikan Pemilih Cerdas di Buay Bahuga

323
0

kud kuda kudd

BUAY BAHUGA, Kpuwaykanan.go.id – Pernak-pernik pelaksanaan ‘pesta demokrasi’ dalam rangka pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Way Kanan pada tahun 2015 menarik untuk dicermati. Salah satu proses/tahapan yang menarik untuk di cermati tersebut adalah menyangkut metode sosialisasi yang dilakukan oleh KPU setempat.

Setelah di beberapa kecamatan melakukan metode sosialisasi dengan berbagai kegiatan, kini giliran di kecamatan Buay Bahuga mengambil langkah baru untuk mensosialisasikan Pilkada serentak 2015 dengan strategi melalui kesenian tradisional seni tari kuda lumping yang di gelar di Kampung Way Agung pada Senin, (12/10/2015).

Komisioner KPU Way Kanan Erwan Bustami yang hadir bersama Darul Hafiz dan didampingi relawan demokrasi mengatakan bahwa Sosialisasi melalui kesenian pentas seni kuda lumping merupakan salah satu metode kreasi sosialisasi program pendidikan pemilih cerdas yang telah dilaksanakan KPU Way Kanan.

Mantan Presiden Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung itu menambahkan bahwa pemilihan tari kuda lumping sebagai media sosialisasi pilkada dikarenakan kesenian tersebut di nilai lebih merakyat, praktis, berbiaya relatif murah, dan lebih efektif karena dapat menyentuh masyarakat dalam berbagai usia maupun lapisan.

Sementara itu Supangat Ketua PPK Buay Bahuga mengatakan bahwa hingga kini kesenian tradisional tari kuda lumping, merupakan salah satu seni pertunjukan yang banyak digemari masyarakat luas terkhusus di kecamatan buay bahuga dan sekitarnya.

Pria kelahiran Belitang 27 April 1976 tersebut menambahkan bahwa Seni tradisional ini memiliki unsur legitimasi kultural dan bersifat fleksi­bel serta mudah diterima oleh khalayak, menghibur serta menggunakan bahasa lokal – maka informasi tentang pilkada seperti: proses/tahapan pilkada, pasangan calon (paslon), kampanye, hingga tempat pemungutan suara dan cara penyoblosan, disisipkan dengan sangat proporsional.

Tanpa menghilangkan nilai-nilai seni yang berlangsung, di tengah-tengah babak pentas (saat pergantian babak) kami sisipkan pesan untuk penonton. misalnya melontarkan pertanyaan kepada penonton sekaligus memberikan hadiah – disusul simulasi pemilihan disertai alat peraga TPS – sangat menggugah antusias khalayak penonton sehingga melalui strategi inilah proses pendidikan politik berlangsung.

“Seni itu indah mari kita sukseskan pilkada dengan keindahan”. Pungkasnya dengan semangat. (Ham)